Tuesday, November 2, 2010

10 Sebab Hadirnya Cinta

 

Cinta adalah kedudukan yg banyak diperebutkan oleh manusia, bahkan dengan antusiasnya, mereka berlomba- lomba ingin mengetahui hakikatnya.

Dengan semangat ruh cinta lah, para ahli ibadah bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah. Maka cinta adalah makanan hati, nutrisi jiwa, dan penyejuk mata.

Cinta adlh kehidupan, yang jika seseorang diharamkan darinya, niscaya dia termasuk di antara sekian banyak orang yang mati.

Cinta adalah cahaya, yang apabila seseorang kehilangannya, niscaya dia akan
berada di laut kegelapan.

Cinta adalah penawar, yang apabila seseorang tidak memilikinya, maka niscaya semua macam penyakit akan singgah di dalam hatinya.

Cinta adalah kelezatan yang apabila seseorang tidak memperolehnya, niscaya
hidupnya seluruhnya adalah kesedihan dan kepedihan.

Cinta adalah ruhnya iman, amal perbuatan, segala kedudukan dan keadaan yang apabila musnah darinya, niscaya ia bagaikan tubuh tanpa nyawa di dalamnya.

Cinta adalah kendaraan suatu kaum yang mereka selalu berjalan di atas punggungnya menuju sang kekasih. Dan dia adalah jalan mereka yang sangat
kokoh yang mengantarkan mereka menuju rumah-rumah mereka dengan cepat.

Demi Allah, sungguh telah pergi sang pemilik cinta membawa kemulian dunia dan akhirat, di mana ketika bersama kekasih mereka merupakan puncak kesempurnaan. Dan sungguh Allah Subhanahu Wata'ala telah memutuskan dengan kehendak dan hikmahNya yang sempurna bahwa seseorang bersama orang yang dicintainya. Maka cinta merupakan kenikmatan yang sempurna bagi para pecinta.

Adapun di antara sebab-sebab yang dapat menghadirkan cinta seorang hamba kepada Rabbnya dan menghadirkan cinta Rabb kepadanya yaitu:

1. Membaca al-Qur`an dengan mentadabburinya dan memahami makna-maknanya dan maksudnya (tafsirnya).

2. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang sesuatu yang beliau riwayatkan dari Rabbnya , “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari).

3. Terus menerus berdzkir kepada Allah Subhanahu Wata'ala dalam setiap kondisi, baik dengan lisan, hati, ataupun dengan perbuatan. Maka besarnya kecintaan seseorang (kepada sesuatu) sebesar dan sebanyak dzikirnya kepadanya. Dan barangsiapa yang mencintai sesuatu, niscaya akan banyak mengingatnya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, “Aku sebagaimana perasangka hambaku kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila dia mengingatKu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan Allah
Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d: 28).

4.Mengutamakan kecintaaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala atas  kecintaan kepada dirimu sendiri ketika diliputi hawa nafsu, dan mengikuti serta mentaati RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam.
Allah Subhanahu Wata'ala
berfirman, artinya, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Telah disebutkan tanda cinta, buah dan manfaatnya, maka tanda cinta (seseorang) kepada Allah Subhanahu Wata'ala adalah mengikuti RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam , sedangkan manfaat dan buahnya adalah kecintaan Allah Subhanahu Wata'ala kepada siapa saja yang mengikutinya (RasulNya). Maka jika tidak ada al-Mutaba’ah (mengikuti RasulNya), ini menunjukkan bahwa cintanya adalah dusta (tidak benar).

5. Menelaah/mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata'ala , mengakui dan mengenalnya serta menelusuri dan menyelaminya di dalam taman-taman pengetahuan (tentangnya). Maka barangsiapa yang mengenal Allah Subhanahu Wata'ala dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-perbuatanNya pasti dia akan mencintaiNya.

6. Mengakui kebaikan Allah Subhanahu Wata'ala dan nikmat-nikmatNya yang tampak (Zhahir) maupun yang tidak tampak (bathin), karena sesungguhnya hal itu dapat memotivasi seseorang untuk mencintai Allah Subhanahu Wata'ala , dan sungguh hati ini tercipta (fitrahnya) mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

7. Menundukkan hati sepenuhnya di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala.

8. Berkhalwat (menyendiri untuk beribadah) dengan Allah Subhanahu Wata'ala pada waktu Dia turun di akhir malam untuk bermunajat kepadaNya dan membaca kitabNya (al-Qur`an) kemudian mengakhiri ibadah kepadaNya dengan memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya. Karena waktu itu adalah waktu pembagian rampasan perang (keuntungan) dan hadiah-hadiah (dari Allah ), ada yang dapat sedikit, ada yang dapat banyak, dan ada pula yang diharamkan (tidak memperoleh sedikitpun).

9. Berteman/bergaul dengan orang-orang yang mencintai (Allah dan RasulNya ) dan orang-orang yang jujur/ benar (keimanannya), dan mengambil yang terbaik dari buah pembicaraan mereka, dan hendaklah kamu tidak berbicara kecuali benar-benar pembicaraanmu terdapat maslahat dan kamu mengetahui bahwa di dalam ucapanmu terdapat tambahan kebaikan untukmu dan bermanfaat buat orang lain.

10. Menjauhi segala sebab yang dapat menjadi penghalang hati ini dengan Allah Subhanahu Wata'ala.

Di antara sebab-sebab yang sepuluh ini, maka insyaAllah sampailah para pecinta kepada lokasi-lokasi cinta dan bertemu dengan sang kekasih.
(/Abu
Nabiel).

Sumber: milis DT

Pahala tak tersisa, dosa bertumpuk pula

 

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ


“Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang kelak pada hari kiamat datang dengan membawa pahala shalat, shiyam dan zakat tetapi ia juga mencela kehormatan si ini, menuduh zina si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si itu. Lalu kebaikan-kebaikannya diberikan kepada si ini dan si itu. Jika kebaikannya habis sebelum semua urusannya selesai maka kesalahan-kesalahan orang yang dia dzalimi dibebankan kepadanya kemudian ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim).

Pada awal bulan Ramadhan 1429 H, ada kejadian menarik yang akan selalu aku ingat. Kejadian itu terekam jelas dalam memoriku. Seolah tak ingin hilang dan tersia-sia. Siang itu, sekitar pukul 11.20, aku pergi ke masjid sebelum adzan Zhuhur berkumandang. Aku ingin mendengar sekelumit kajian ibu-ibu yang diadakan di dalam kelas –sekitar 3 kelas- yang bersampingan dengan masjid, pada 10 hari pertama bulan Ramadhan. Sebuah kajian yang diadakan untuk memupuk keimanan dan meningkatkan ketakwaan. Salut. Karena jumlah ibu-ibu yang datang memenuhi ruangan, bahkan karena tak cukup, ada yang mendengarkan di luar ruangan.

Belum sampai langkah ini sampai ke masjid, aku mendengar suara sesenggukan. Semakin mendekat, semakin jelas pula suara sesenggukannya. Itu bukan sesenggukan tangis anak-anak tapi ibu-ibu. Aku termenung dan terpaku mendengarnya. Seolah ada gelombang tsunami yang selama beberapa detik menghentikan langkahku. Ibu itu tidak kuasa menahan deraian airmatanya. Tangisnya tumpah sekalipun ia di depan segenap kaum hawa, dan dialah yang sedang memberikan nasehat kepada mereka. Sesekali, ia usap airamatanya dengan tangannya. Suasana di dalam ruangan itu sedemikian haru. Semua ibu-ibu terdiam dan terpaku.

Pemateri itu kemudian menyampaikan dengan kata terbata-bata dan berusaha menyembunyikan sesenggukannya, “Ibu-ibu semuanya…, dari lubuk hati terdalam saya meminta ibu-ibu sekalian memaafkan bila ada salah kata dan salah ucap yang pernah saya lakukan. Ibu-ibu, betapa merugi dan bangkrut orang yang disebutkan dalam hadits yang tadi saya sebutkan. Orang itu membawa pahala shalat, membawa pahala shiyam, membawa pahala zakat selama hidupnya, namun semuanya terasa sia-sia karena terlampau banyak kedzaliman yang dilakukannya. Sekali lagi, saya meminta kerelaan dan keikhlasan ibu-ibu semua untuk memaafkan saya, baik tersengaja maupun tidak.”

Materi yang disampaikan pada hari itu adalah hadits tentang orang yang bangkrut; orang yang membawa pahala shalat, membawa pahala shiyam, membawa pahala zakat, tetapi semuanya nyaris tidak tersisa. Bahkan ia mendapatkan tumpukan dosa yang harus ditanggungnya. Kebaikan tidak tersisa, bertumpuk dosa pula. Alangkah meruginya…,

Dosa yang mengikis pahala
Sebenarnya, hadits itu sudah biasa kita dengar, terlalu sering bahkan. Atau mungkin kita sudah hafal di luar kepala. Namun kalau kita mampu mengeja kedalaman makna yang terkandung dalam hadits tersebut sebagaimana ibu di atas, mungkin kita juga akan bisa merasakannya. Karena pahala-pahala amal shaleh kita bisa jadi nanti bukan milik kita lagi lantaran terlampau banyak kezhaliman yang mungkin kita lakukan tanpa kita sadari. Dosa mencela, menuduh zina, mengambil harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain adalah dosa-dosa yang kelak akan kita peruntukkan kepada orang yang pernah kita zhalimi. Kiranya, ini yang harus kita waspadai. Kita berlindung kepada Allah dari semua jenis kezhaliman karena kezhaliman akan menjadi menjadi kegelapan, pada hari kiamat kelak.

Dosa Lisan, dosa yang paling berat
Tentang hadits al Muflis di atas, Nabi menyebutkan dosa lisan pada urutan pertama. Ini menunjukkan betapa banyak manusia yang terjerumus ke lembah dosa lisan tanpa mereka sadari. Bahkan beliau mewanti-wanti bahwa kelak yang banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan. Rasululloh bersabda, “Aktsaru ma yudkhilu an nasa an naara al fammu wa al farju, Kebanyakan yang memasukkan manusia adalah mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan mengatakan, “Ini hadits shahih.”).
Dari hadits inilah, Ibnul Qayyim dalam bukunya, al-Wabil ash-Shayyib, menjelaskan bahwa kesabaran terhadap maksiat yang paling berat adalah sabar dari maksiat lisan dan kemaluan. Alasannya, ada banyak faktor yang mendorong lisan dan kemaluan untuk bermaksiat, dan kemudahan sarana bagi keduanya untuk bermaksiat. Beliau melanjutkan, ini disebabkan karena kemaksiata lisan adalah bentuk kemaksiatan yang disenangi manusia, seperti : Adu domba, ghibah, dusta, sombong, memuji diri sendiri, baik secara langsung maupun tidak, menyiarkan omongan orang lain, mencaci maki orang yang dibenci dan menyanjung orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Dari sini, kekuatan pendorong dan kemudahan untuk melakukan kemaksiatan berkumpul menjadi satu sehingga kesabaran menjadi melemah. Oleh karena itu, Rasululloh mengingatkan Mu’adz, “Jagalah lisanmu !” “Wahai Rasululloh, apakah kita akan dihukum karena apa yang kita katakan ?” tanya Mu’adz. Beliau menjawab, “Tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka melainkan karena lisannya ?” (HR. Tirmidzi dan ia berkata, “Ini hadits hasan shahih.”).
Karena beratnya sabar terhadap maksiat lisan dan kemaluan inilah Rasululloh menjanjikan jannah bagi orang yang mampu menjaga keduanya. Beliau bersabda, “Man yadhman li ma baina lihyaihi wa baina fakhidaihi adhman lahu al jannah…., Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua dagunya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin jannah baginya.” (HR. Bukhari).
Dalam sunannya, Imam Tirmidzi menyebutkan hadits Bilal bin Harits al-Muzani bahwa Rasululloh bersabda, “Salah seorang diantara kalian ada yang mengatakan satu ucapan yang diridhai Allah, ia tidak pernah menyangka bahwa ucapannya akan menghantarkannya pada kedudukan yang tinggi. Kemudian Allah menentukan keridha’an-Nya kepadanya karena kalimat tadi sampai hari ketika dia bertemu dengan-Nya. Dan di antara kalian ada juga yang berbicara dengan satu perkataan sehingga menyebabkan kemurkaan Allah yang ia tidak pernah mengira bahwa ucapannya itu mengundang kemurkaan-Nya. Kemudian Allah menetapkan kemurkaan-Nya kepadanya karena ucapan tersebut sampai pada hari ketika dia bersua dengan-Nya.”

Berkaitan dengan hadits di atas, al-Qamah mengatakan, “Berapa banyak kalimat yang tidak jadi aku ucapkan karena teringat hadits Bilal bin Harits tersebut.”

Kiranya, kita harus belajar menjaga lisan kita; belajar untuk tidak mencaci, mengata-ngatai, menggibah dan semisalnya, karena dosa inilah yang paling berpotensi menggunduli pahala ibadah kita, tanpa sisa. Lisan, ia bisa menjadi jalan menuju jannah, atau sebaliknya, jembatan menuju neraka. Pilihannya kembali kepada kita. Kalau toh ada yang mengatai kita, pesan Isa bin Maryam ‘Alaihis salam perlu kita renungkan bersama, “Janganlah perkataan manusia membuatmu sedih. Kalau ia benar, itu adalah balasan dosamu yang disegerakan, namun bila ia tidak benar maka itu akan menjadi amalan kebaikan yang tidak kamu lakukan.” Ibnu Mahdi pernah berharap, “Demi Allah, kalau tidak karena khawatir manusia bermaksiat kepada Allah niscaya aku berharap agar semua penduduk Mesir mengghibahku.” Lanjut beliau, “Adakah yang lebih diharapkan melebihi seseorang yang mendapatkan pahala kebaikan yang tidak dia lakukan?.” Wallahu A’lam. 

Sumber : http://ibnuabdulbari.wordpress.com

Pave the Way for an Easier Life

 
Pave the Way for an Easier Life
by Jane Powell

“Life works best with fewer non-negotiables.”
Non-negotiables are stances you take where you’re not willing to budge an inch. You probably have non-negotiables with your partner, kids, parents and your job. They can be things that you want, things that you don’t want, or, your opinions and points of view.
Only you can decide where to draw the line. There are certainly things in your life that, no matter what, are non-negotiable. End of discussion! But if your list of non-negotiables is long then you may be making life more difficult than necessary.
Challenge your non-negotiables. Are they all really set in stone? Remember, sometimes you need to be willing to give a little to receive greater harmony and good will.


TO BE
 
To be so strong that nothing can disturb your peace of mind;

To talk health, happiness, and prosperity to every person you meet;

To make all your friends feel that there is something in them;

To look at the sunny side of everything and make your optimism come true;

To think only the best, to work only for the best, and to expect only the best;

To be just as enthusiastic about the success of others as you are about your own;

To forget the mistakes of the past and press on to the greater achievements of the future;
 
To wear a cheerful countenance at all times and give every living creature you meet a smile;

To give so much time to the improvement of yourself that you have no time to criticize others;

To be too large for worry, too noble for anger, too strong for fear;
and too happy to permit the presence of trouble;

To think well of yourself and to proclaim this fact to the world,
not in loud words, but in great deeds;
 
To live in the faith that the whole world is on your side so long as you are true to the best that is in you.
 
C.D. Larson 

 

Your thoughts are more powerful than you can ever realize. For there is a part of you that faithfully puts each thought into action without question.
Your thoughts affect every part of you in ways much too numerous to ever keep track of. Each thought sets off a cascade of responses within you that cannot be stopped.
What you think, affects where your life goes. For each thought is magnified and manifested through the whole of your existence.
Positive thinking empowers much more than your thoughts. Negative thinking can dismantle every part of your life.
You always have a choice of what to think. When making that choice, always remember each thought has great power that continues long after the thought has passed from your consciousness.
Though thinking does not make it so, thinking makes you make it so. What you think becomes what you live.

Ralph Marston

 
" Morning Coffee"
Created, and maintained by:Dizzyrizzy@comcast.net GrandmaGail2BC@aol.com
Copyright © 1996 -2010
" Morning Coffee" all rights reserved.