Wednesday, January 5, 2011

The Cost of Living Up To the Expectations of Others

 
 
The Cost of Living Up To the Expectations of Others
by Jane Powell
 
“You are your own best judge.”
 
When you start judging yourself by looking through the eyes of your parents, husband, friends, or boss, you end up running around doing more and more in an effort to gain their approval. It does not take long before you end up feeling exhausted, resentful and ready to give up.
 
Trying to live your life by the expectations of others disconnects you from your own desires. It leaves you feeling empty and unmotivated. The gratification that comes from fulfilling the expectations of others is very little and short-lived.
 
Reclaim the energy and happiness that is rightfully yours! Be your own judge and live by your own expectations. As you reclaim your potential, you will thrive and feel energized, because you are accomplishing things that are important to you. Start today!
 

WHAT ARE YOU DREAMING ABOUT?
 
The agricultural school dean was interviewing a freshman. "Why have
you chosen this career?" he asked.
 
"I dream of making a million dollars in farming, like my father,"
replied the freshman.
 
The dean was impressed. "Your father made a million dollars in
farming?"
 
"No," the student said. "But he always dreamed of it."
 
All right. That was corny. But at least this student has a dream,
even if it is only a dream about money.
 
I prefer the story of a man who was discussing with his wife a trip
he wanted to take to Alaska. He told her he'd always dreamed of such
an adventure. He wanted to travel deep into the wilderness. He
wanted to rough it. He talked about how exciting it would be to stay
in a log cabin without electricity, to hunt caribou and drive a dog
team instead of a car.
 
"If we decided to live there permanently, away from civilization,
what would you miss the most?" he asked his partner.
 
She replied, "You."
 
His dream; not hers. A better dream might include her.
 
This is a time of year we often examine our dreams and goals. I've
found a couple of questions helpful when I consider which dreams to
chase and which to leave alone.
 
First, does my dream have deep meaning? Or put another way, is it
significant and important enough to commit my time and energy
toward? What will it ultimately mean if I accomplish this thing I
think I want? Probably the pursuit of prosperity alone will not
bring the kind of meaning you desire at a deeper level.
 
The second question is similar. Does my dream spring from the best
that is within me? Does it come from a place of love or altruism?
Will my life and the lives of those I love be better for it? My best
dreams include those I love.
 
What are you dreaming about?
 
Steve Goodier
 
 
Create a reward for yourself, and then go get that reward. Give yourself something to look forward to, and let it motivate you.
Make it a wonderful, inspiring reward. Make it rich and exciting.
 
When you're working your way toward something delightful, nothing can get you down. When you have something to look forward to, you'll do whatever is necessary to get yourself there.
 
With a clearly defined objective, it's easy to figure out what to do next. Eager anticipation fills you with powerful and effective enthusiasm.
 
If you have trouble getting yourself moving, take a fresh look at what you're moving toward. Give yourself a good enough reason, give yourself a desirable enough reward, and plenty of motivation will naturally come.
 
Create a reward you can truly and enthusiastically look forward to. And let it get you moving.
 
Ralph Marston

 
" Morning Coffee"
Created, and maintained by:Dizzyrizzy@comcast.net GrandmaGail2BC@aol.com
Copyright © 1996 -2010
" Morning Coffee" all rights reserved.

Tuesday, January 4, 2011

Persiapan NIkah

 

Menarik untuk disimak lhoo... kultwitya Salim A. FIlah ttg "Persiapan Nikah" ;) Happy reading.. n semoga bermanfaat! ;)

1. Dalam isyarat Nabi tentang , ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.

2. Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. "Ba'ah" adalah parameter kesiapannya.
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.

4. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal "Ba'ah" dalam hadits itu adalah "Kemampuan seksual."

5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna "Ba'ah" yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah.  
6. Mengompromikan "Ba'ah" di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.  

7. Jika kesiapan diukur dengan "Ba'ah", maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
8. Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah: Ruhiyah, 'Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima'iyah (Sosial)

9. Persiapan perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.

10. Sebaliknya, ada orang yang -nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini.

 12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan.

13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.

14. Sebelum , grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.

15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.

 16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya.

17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.  
18. 'Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu

19. Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.
20. Jika masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.

21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam . "Apa obsesimu?" 
22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?

23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumahtangga & masalah-masalahnya.

24. Lalu persiapan 'Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) , meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar'i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga

26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu

27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi  


29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: "Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai" Konflik pasti meraja.  

30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
31. Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira' dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.

33. Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. I: O, jadi aku dianggap pembantu?!. S: Lho?!  
34. BEDA: Istri cerita untuk ringankan beban hatinya. Dimengerti itu solusi >< Suami akan cerita masalah yang sudah berhasil diatasi.

35. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.  
36. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Ie: Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!

37. -> Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri" Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: Tolong jemput Salma!  

38. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar)

39. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius. Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta

40. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu  

41. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).  

42. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa.  

43. Uji kecil buat calon ibu & ayah: "Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?"
44. LAZIM: "Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!" -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.
45. LAZIM: "iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!" -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar.

46. LAZIM: "Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!" -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P

47. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9)

48. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk . Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.

49. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi

50. Per -an itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.

51. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang.  
52. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus

53. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah  

54. Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan; PRIMER: sehat & aman penyakit, SEKUNDER: bugar & tangkas, TERSIER: beauty & charm;)

55. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana.

56. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal  

57. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami.
58. Ingat & catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.

59. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.

60. Maka memulai per -an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.

61. 'Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.

62. Tetapi 'Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.

63. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)

64. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu.

65. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

66. Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)

67. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)

68. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta

69. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup.

70. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS

71. Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima'iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.

72. Sebuah per -an yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.

73. Untuk itu, mereka yang akan me hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

74. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait per -an & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.
75. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah 'persahabatan', Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri.

76. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin me dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma'ruf.
77. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll.

78. Per -an kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor.

79. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah adl yg plg berhak diundang.

80. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan. Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

81. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan.

82. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan.

83. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA

84. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat.

85. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst

86. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst

87. Ringkas kata untuk persiapan sosial ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT :-)

88. Tuntaslah KulTwit Persiapan yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta Semoga manfaat;)

Trying Without Excuses

 

Trying Without Excuses
by Jane Powell
“C’mon! Give it a shot.”
 
The fear of not knowing how something will turn out is enough to make anyone say, “Forget it.” Rather than dealing with problems head on, sometimes it’s easier to ignore them and hope they’ll go away. When we’re tired of trying, it’s tempting to think that, since nothing has worked in the past, we’re powerless.
 
Does any of this ring a bell? If so, it’s probably because you put way too much pressure on yourself to have things always work out well.  With a mindset like this you’re missing out on opportunities, relief and good fortune, simply because you didn’t try.
 
There are no guarantees in any of our lives. Things may or may not work out. Just because they “may not” work out, it’s not an excuse not to try.
 
Next time you find yourself saying, “Forget it,” or “No thanks,” give it a shot and say “Why not?” instead. Jump in with both feet and see what happens!
 
 

ABC of Life


A - Accept
Accept others for who they are and for the choices they've made even if you have difficulty understanding their beliefs, motives, or actions.

B - Break Away
Break away from everything that stands in the way of what you hope to accomplish with your life.

C - Create
Create a family of friends whom you can share your hopes, dreams, sorrows,and happiness with.

D - Decide
Decide that you'll be successful and happy come what may, and good things will find you. The roadblocks are only minor obstacles along the way.

E - Explore
Explore and experiment. The world has much to offer, and you have much to give. And every time you try something new, you'll learn more about yourself.

F - Forgive
Forgive and forget. Grudges only weigh you down and inspire unhappiness and grief. Soar above it, and remember that everyone makes mistakes.

G - Grow
Leave the childhood monsters behind. They can no longer hurt you or stand in your way.

H - Hope
Hope for the best and never forget that anything is possible as long as you remain dedicated to the task.

I - Ignore
Ignore the negative voice inside your head. Focus instead on your goals and remember your accomplishments. Your past success is only a small inkling of what the future holds.

J - Journey
Journey to new worlds, new possibilities, by remaining open-minded. Try to learn something new every day, and you'll grow.

K - Know
Know that no matter how bad things seem, they'll always get better. The warmth of spring always follows the harshest winter.

L - Love
Let love fill your heart instead of hate. When hate is in your heart, there's room for nothing else, but when love is in your heart, there's room for endless happiness.

M - Manage
Manage your time and your expenses wisely, and you'll suffer less stress and worry. Then you'll be able to focus on the important things in life.

N - Notice
Never ignore the poor, infirm, helpless, weak, or suffering. Offer your assistance when possible, and always your kindness and understanding.

O - Open
Open your eyes and take in all the beauty around you. Even during the worst of times, there's still much to be thankful for.

P - Play
Never forget to have fun along the way. Success means nothing without happiness.

Q - Question
Ask many questions, because you're here to learn.

R - Relax
Refuse to let worry and stress rule your life, and remember that things always have a way of working out in the end.

S - Share
Share your talent, skills, knowledge, and time with others. Everything that you invest in others will return to you many times over.

T - Try
Even when your dreams seem impossible to reach, try anyway. You'll be amazed by what you can accomplish.

U - Use
Use your gifts to your best ability. Talent that's wasted has no value. Talent that's used will bring unexpected rewards.

V - Value
Value the friends and family members who've supported and encouraged you, and be there for them as well.

W - Work
Work hard every day to be the best person you can be, but never feel guilty if you fall short of your goals. Every sunrise offers a second chance.

X - X-Ray
Look deep inside the hearts of those around you and you'll see the goodness and beauty within.

Y - Yield
Yield to commitment. If you stay on track and remain dedicated, you'll find success at the end of the road.

Z - Zoom
Zoom to a happy place when bad memories or sorrow rears its ugly head. Let nothing interfere with your goals. Instead, focus on your abilities, your dreams, and a brighter tomorrow.  
 
 

When you've had a setback, ask yourself this. What is it attempting to tell you?
Often the setbacks can turn out to be very fortunate occurrences. Because they prevent you from going any further down a dead-end road.
 
Setbacks force you to re-evaluate your strategy. And that will invariably lead to a much more successful strategy.
 
When you've had a setback, challenge yourself to find the positive message in it. Challenge yourself to find a more effective way to move forward from it.
 
Use it as an opportunity to step back and get some perspective. Use it as an opportunity to renew your commitment and realign with your purpose.
 
See each setback as one more step on the path to achievement. Then get back on that path, for success is closer than ever before.
 
 Ralph Marston
 
 
" Morning Coffee"
Created, and maintained by:Dizzyrizzy@comcast.net GrandmaGail2BC@aol.com
Copyright © 1996 -2010
" Morning Coffee" all rights reserved.