Wednesday, January 17, 2018

Hadits Ke-2| Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bag. 03/12)



 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Rabi’ul Akhir 1439 H /17 Januari 2018 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
 Hadits Arba’in Nawawī
 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 03 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0226
-----------------------------------
*HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 3 DARI 12)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Perbedaan syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر), adalah:

⑶ Sebagian ulamā (ada khilāf diantara para ulamā) mengatakan bahwasanya di antara perbedaan antara syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر) adalah syirik akbar tidak akan diampuni.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ

"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu." (QS An Nissā': 48)

Adapun syirik kecil sebagian ulamā mengatakan termasuk ke dalam kehendak Allāh, bisa diampuni bisa juga tidak sebagaimana dosa-dosa yang lain.

Pada poin ketiga ini ada khilāf, sebagian ulama seperti Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Banyak perkataan-perkataan beliau yang mengisyaratkan bahwasanya beliau berpendapat syirik kecilpun tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Adapun murid beliau Ibnu Qayyim rahimahullāh cenderung kepada pendapat bahwasanya syirik kecil bisa diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mereka yang mengatakan syirik kecil tidak akan diampuni oleh Allāh mereka berdalīl dengan keumuman firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla: 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa kesyirikan."

Disini Allāh menyebutkan syirik secara umum, sehingga mencakup syirik besar dan juga syirik kecil.

Dan yang dimaksud oleh para ulamā syirik kecil tidak akan diampuni bukan berarti orang yang melakukan syirik kecil akan masuk ke dalam neraka Jahanam kekal di dalamnya selama-lamanya (bukan seperti ini maksudnya).

Maksudnya syirik kecil jika tidak diampuni artinya pelakunya harus ditimbang ke dalam timbangan keburukan, kemudian dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh hamba tersebut.

Artinya tidak diampuni bukan berarti orang yang melakukan syirik asghar kemudian kekal di dalam neraka jahanam, tidak! tetapi dia harus diletakkan dalam timbangan amal keburukan.

Namun pendapat yang lebih rajīh, Wallāhu a'lam bishawāb, adalah pendapat yang menyatakan syirik kecil di bawah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sebagaimana dosa-dosa yang lain.

Jika Allāh berkehendak untuk mengampuni maka Allāh ampuni atau jika Allāh berkehendak untuk tidak mengampuni maka Allāh tidak akan ampuni dan akan diletakkan ke dalam  timbangan keburukan.

Kenapa?

Karena banyak ayat-ayat dalam Al Qur'ān yang menyebutkan syirik secara umum tetapi maksudnya syirik akbar.

Contohnya seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

"Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allāh maka Allāh harāmkan surga baginya dan tempat kembalinya neraka Jahanam dan tidak ada penolong baginya."(QS Al Mā'idah: 72)

Disini Allāh mengatakan:
"Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan."

Maksudnya syirik akbar bukan syirik kecil. Karena Allāh mengatakan, "Allāh harāmkan surga baginya."

Yaitu, tidak mungkin masuk surga selamanya. Padahal lafalnya umum.

Contoh lain firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla : 

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

"Jika engkau berbuat kesyirikan maka akan gugur seluruh amalanmu." (QS Az Zummar: 65)

Maksudnya kesyirikan disini adalah adalah syirik akbar padahal lafalnya umum, dengan ijmā' ulamā maksudnya syirik akbar.

Demikian pula firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla : 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ

"Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa kesyirikan."

Maksudnya syirik akbar.

Meskipun dinyatakan dengan nama syirik kecil, bukan berarti dia merupakan dosa yang ringan, dia termasuk dari dosa besar. Walaupun dia disebut dengan syirik kecil tapi dia termasuk dari keumuman kesyirikan dan termasuk dari dosa besar dan bisa mengancam pelakunya terjerumus dalam neraka jahannam.

Bukankah telah kita sampaikan pada pertemuan yang lalu tentang tiga orang yang diadzāb oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla  karena riyā'.
√ Yang berjihād karena riyā'.
√ Yang bershadaqah karena riyā'.
√ Yang menjadi ustadz ('alim) karena riyā'.
Dimasukan ke dalam neraka jahannam.

Oleh karenanya syirik ashghar meskipun dikatakan syirik kecil dia termasuk dosa besar.
Barangsiapa yang memperhatikan bagaimana perhatian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terhadap tauhīd, maka dia akan sadar bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin menjauhkan umatnya dari segala bentuk kesyirikan, sejauh-jauhnya.

Oleh karenanya, Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām berdo'a: 

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

"Yā Rabb, jauhkan aku dan anak-anakku dari penyembahan berhala." (QS Ibrāhīm: 35)

"Jauhkan aku dari penyembahan berhala, jauhkan aku dan anak-anakku dari kesyirikan." Artinya Nabi Ibrāhīm dan anak-anaknya jauh, bukan hanya sekedar tidak melakukan kesyirikan, tetapi Nabi Ibrāhīm berdo'a agar dijauhkan, dijauhkan sejauh-jauhnya dari segala bentuk kesyirikan. Bukan sekedar jangan membuat kami terjerumus ke dalam kesyirikan, tidak!
Bukan hanya tidak terjerumus bahkan jauh dari kesyirikan dan ini do'anya Nabi Ibrāhīm 'alayhissallām.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengharāmkan banyak perkara terhadap kaum muslimin agar terjauh dari orang-orang musyrikin, baik dalam perkara ibadah maupun perkara adat.
Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_____________________

Hadits Ke-2 | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bag. 02/12)



 BimbinganIslam.com
Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1439 H /16 Januari 2018 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
 Hadits Arba’in Nawawī
 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 02 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0225
----------------------------------- 

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 2 DARI 12)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita sama-sama berusaha untuk membersihkan jiwa kita dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil dan ini perlu perjuangan.

Perjuangan yang tiada hentinya, karena hal-hal yang bisa memalingkan hati kita dari keikhlāsan sangat banyak. Hal-hal yang bisa menjerumuskan hati kita ke dalam syirik kecil banyak.

Oleh karenanya barangsiapa yang berjuang dan mentahqiq ikrar dia yang selalu dia ucapkan dalam shalātnya: 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."
(QS Al Fatihah: 5)

Maka dia akan selamat dari segala bentuk kesyirikan, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh. 

Beliau (Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh) mengatakan: 
 "Barangsiapa yang mentahqiq (mewujudkan): إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkaulah yang kami beribadah) maka dia akan bersih dari riyā'."

Kenapa?

Karena setiap dia melakukan ibadah, dia selalu ingat bahwasanya, "Kami tidak beribadah kecuali hanya kepada Engkau yā Allāh. Kami tidak bersedekah kecuali hanya untuk Engkua yā Allāh. Kami tidak shalāt. Kami tidak berdakwah, kami tidak berinfāq kecuali karena Engkau yā Allāh."
Maka dia akan selamat dari dosa riyā'.

"Dan barangsiapa yang mewujudkan: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan), maka dia akan selamat dari penyakit ujub."

Menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, ujub merupakan syirik kecil, karena seseorang tatkala meraih keberhasilan kemudian dia merasa memiliki peran dalam keberhasilan tersebut, dia merasa karena kecerdasannya, dia merasa karena pengalamannya, dia merasa karena kehebatannya, kepandaiannya, maka dia terjerumus ke dalam ujub.

Orang yang bebas dari ujub dia sadar bahwasanya segala sesuatu berdasarkan isti'ānah (pertolongan) dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Memang dia punya pengalaman, punya kecerdasan, tetapi pengalaman dan kecerdasan tersebut dari Allāh. Allāh siapkan pengalaman tersebut sehingga dia berhasil.

Oleh karenanya barangsiapa mentahqiq (mewujudkan): إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , maka dia akan bersih dari segala bentuk kesyirikan, riyā' maupun ujub.

Pembahasan kita pada kesempatan kali ini adalah tentang syirik asghar (الشرك الاصغر) dan kita telah jelaskan bahwasanya para ulamā telah membagi syirik menjadi dua, yaitu:
⑴ Syirik Asghar (الشرك الاصغر)
⑵ Syirik Akbar (الشرك الأكبر)
Bedanya apa?
Kita sepakat bahwasanya syirik merupakan dosa besar, sebagaimana telah saya jelaskan bahwa Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

"Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar?"
Beliau bertanya ini 3x.
Para shahābat mengatakan:
"Tentu wahai Rasūlullāh."
Nabi bersabda:
"Syirik kepada Allāh dan durhaka kepada orang tua."
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim) 

Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ؟

“Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”
Maka kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam: 

أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ.

"Engkau menjadikan tandingan bagi Allāh (menyekutukan Allāh ) padahal Allāh-lah yang telah menciptakanmu." (Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Perbedaan syirik akbar (الشرك الأكبر) dengan syirik asghar (الشرك الاصغر) adalah: 

⑴ Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik akbar maka dia keluar dari Islām.
Syahadah ' "Lā ilāha illallāh" batal, sebagaimana wudhū bisa batal, shalāt bisa batal, haji bisa batal, puasa bisa batal, demikian juga rukun peryama 'Lā ilāha illallāh bisa batal. Batalnya dengan kesyirikan dan kekufuran.
Adapun syirik kecil tidak.
Barangsiapa yang terjerumus ke dalam syirik kecil (in syā Allāh akan kita jelaskan bentuk-bentuk syirik kecil) maka dia tidak keluar dari Islām (kāfir) dia hanya terjerumus dalam dosa, dosa yang berbahaya namun tidak sampai pada derajat kekāfiran.
Ini perbedan pertama. 

⑵ Jika seseorang terjerumus ke dalam syirik akbar maka seluruh amalan perbuatan dia gugur. 

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
"Jika engkau melakukan kesyirikan maka akan gugur seluruh amalanmu."
(QS Az Zummar: 65)
Adapun syirik kecil maka dia hanya mengugurkan amalan yang tercampurnya saja tidak semua amalan. 

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_____________________

Hadits Ke-2 | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bag. 01/12)



 BimbinganIslam.com
Senin, 28 Rabi’ul Akhir 1439 H /15 Januari 2018 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
 Hadits Arba’in Nawawī
 Hadits Kedua | Penjelasan Penyimpangan Dalam Tauhid Uluhiyyah Syirik Kecil (Bagian 01 dari 12)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-HaditsArbainNawawi-0224
----------------------------------- 

HADITS 02 ARBA’IN NAWAWIYYAH - PENJELASAN PENYIMPANGAN DALAM TAUHID ULŪHIYYAH SYIRIK KECIL (BAGIAN 1 DARI 12)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulilāh pada pertemuan yang lalu kita telah membahas:
* Tauhid rubūbiyah dan berbagai macam bentk kesyirikan dan kekufuran yang menyimpang dari tauhīd rubūbiyah.
* Tauhīd ulūhiyah dan kesyirikan-kesyirikan yang menyimpang dari tauhīd ulūhiyah yaitu syirik-syirik akbar.

In syā Allāh, pada kesempatan hari ini kita akan membahas tentang: الشرك الاصغر , syirik kecil.
Karena di antara kesempurnaan tauhīd adalah membersihkan hati dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil. 

Membersihkan hati dari syirik besar maupun syirik kecil dengan berbagai macam rupa dan warnanya merupakan perkara yang berat, perlu perjuangan. Perjuangan tersebut tidak akan selesai kecuali setelah meninggal dunia. 

Akan tetapi barangsiapa meninggal dunia dalam kondisi bertauhīd tidak berbuat syirik sama sekali (syirik besar maupun syirik kecil) maka dia akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar. Di antara ganjaran tersebut adalah dia akan diampuni dosa-dosanya. 

Oleh karenanya di dalam hadīts qudsi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman: 

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

"Wahai anak Ādām, kalau engkau datang menemuiku dengan membawa dosa sebesar bumi ini, kemudian engkau bertemu dengan Ku dalam kondisi tidak berbuat syirik sama sekali, maka aku akan mendatangi engkau dengan sebesar bumi pula berupa ampunan."
(Hadīts hasan riwayat At Tirmidzī) 

Ini merupakan ganjaran yang luar biasa bagi orang yang memurnikan hatinya, bersih dari segala bentuk kesyirikan, baik syirik akbar maupun syirik kecil.Meskipun dosa sebesar apapun yang dia bawa maka Allāh akan datangkan dengan ampunan sebesar dosa tersebut. 

Sungguh menakjubkan hadīts shahībul bithāqah yang mashyur yang disebutkan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

"Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amal keburukannya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang.
Kemudian Allāh menanyakan padanya:
"Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?"
Ia menjawab:
"Tidak sama sekali wahai Rabbku."
Allāh bertanya lagi:
"Apakah yang mencatat hal ini berbuat zhālim padamu?"
Lalu ditanyakan pula:
"Apakah engkau punya udzur atau ada kebaikan di sisimu?"
Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak."
Allāh pun berfirman:
"Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezhāliman atasmu hari ini."
Lantas dikeluarkanlah satu bithāqah (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat "'Lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan 'abduhu wa rasūluh".
Lalu ia bertanya:
"Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?"
Allāh berkata padanya:
"Sesungguhnya engkau tidaklah zhālim.”
Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘'Lā ilāha illallāh" di daun timbangan lainnya.
Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘'Lā ilāha illallāh" tadi. (HR Ibnu Majah 4300)

Setiap muslim memiliki kartu 'Lā ilāha illallāh, tetapi tidak semua kwalitasnya sama, barangsiapa yang tauhīdnya tinggi, hatinya bersih dari segala bentuk kesyirikan maka sinar tauhīdnya akan semakin kuat dan akan mudah menghancurkan dosa-dosa yang lain.

Memang berat untuk bisa memurnikan tauhīd dari segala bentuk kesyirikan baik syirik besar maupun syirik kecil. Akan tetapi jika seseorang meninggal dunia dalam kondisi demikian maka ampunan telah menantinya, surga telah menantinya.

Syafā'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menantinya.

Dalam hadīts Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan: 

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

"Setiap nabi ada do'a yang dikabulkan, dan setiap nabi bersegera berdo'a agar dikabulkan. Akan tetapi aku simpan do'aku untuk dapat memberikan syafā'at kepada umatku pada hari Kiamat.

Dan sesungguhnya, syafā'atku ini akan diperoleh, in syā Allāh bagi orang yang mati dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun." (Hadīts riwayat Muslim nomor 199)

Oleh karenanya orang yang tidak berbuat syirik sama sekali maka dia akan meraih syafā'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian saja kajian kita pada kesempatan kali ini, besok in syā Allāh kita lanjutkan lagi dengan idzin Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________